BAB
I
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG
Morbiditas
dan mortalitas pada wanita hamil dan bersalin adalah masalah besar di negara
berkembang. Di negara miskin, sekitar 25-50% kematian wanita usia subur
disebabkan hal yang berkaitan dengan kehamilan dan persalinan. Masalah kematian
ibu adalah masalah yang kompleks, meliputi hal-hal yang bersifat nonteknis
seperti status wanita dan pendidikan. Walaupun masalah tersebut perlu
diperbaiki sejak awal, namun kurang realistis bila mengharapkan perubahan
drastis dalam tempo singkat. Karena diperlukan intervensi yang mempunyai dampak
nyata dalam waktu relatif pendek (Manuaba, 2002). Kematian saat melahirkan
biasanya menjadi faktor utama mortalitas wanita muda pada masa puncak
produktivitasnya. Tahun 2001, WHO memperkirakan lebih dari 585.000 ibu per
tahunnya meninggal saat hamil dan bersalin.
Perdarahan
pascapersalinan adalah sebab penting kematian ibu; ¼ kematian ibu yang
disebabkan oleh perdarahan (perdarahan pascapersalinan, placenta previa,
solutio plasenta, kehamilan ektopik, abortus, Retensio placenta dan ruptura
uteri) disebabkan oleh perdarahan pascapersalinan. Selain itu, pada keadaan
dimana perdarahan pasca persalinan tidak mengakibatkan kematian, kejadian ini
sangat mempengaruhi morbiditas nifas karena anemia dapat menurunkan daya tahan
tubuh. Perdarahan pascapersalinan lebih sering terjadi pada ibu-ibu di
Indonesia dibandingkan dengan ibu-ibu di luar negeri.
Retensio
plasenta merupakan salah satu masalah yang masih menjadi penyebab terbesar
terjadinya perdarahan post partum dan kematian maternal.
Menurut Depkes RI, kematian ibu di Indonesia (2002) adalah 650 ibu tiap 100.000
kelahiran hidup dan 43% dari angka tersebut disebabkan oleh perdarahan post partum.Perdarahan
yang disebabkan karena retensio plasenta dapat terjadi karena plasenta lepas
sebagian, yang merupakan indikasi untuk mengeluarkannya. Plasenta belum lepas
dari dinding uterus karena:
a.
Kontraksi uterus kurang kuat untuk melepaskan plasenta
(plasenta adhesiva);
b.
Plasenta melekat erat pada dinding uterus oleh sebab
vili korialis menembus desidua sampai miometrium- sampai di bawah peritoneum
(plasenta akreta-perkreta).
Plasenta
yang sudah lepas dari dinding uterus akan tetapi belum keluar, disebabkan oleh
tidak adanya usaha untuk melahirkan atau karena salah penanganan kala III,
sehingga terjadi lingkaran konstriksi pada bagian bawah uterus yang menghalangi
keluarnya plasenta (inkarserasio plasenta). Sehingga dilakukan tindakan manual
plasenta.
B. RUMUSAN
MASALAH
Bagaimana
konsep retensio plasenta dan asuhan keperawatannya ?
C. TUJUAN
1. Tujuan umum
Untuk mengetahui dan menerapkan ilmu yang didapatkan
tentang kasus retensio plasenta .
2. Tujuan
Khusus
a. Mahasiswa
mampu memahami apa yang di maksud dengan retensio plasenta
b. Mahasiswa
mampu memahami apa yang menyebabkan terjadinya retensio plasenta.
c. Mahasiswa
mampu memahami bagaimana cara penangan retensio plasenta
BAB
II
PEMBAHASAN
A. DEFINISI
Retensio
Placenta adalah tertahannya atau keadaan dimana uri/placenta belum lahir dalam
waktu satu jam setelah bayi lahir.
Retensio
Plasenta adalah terlambatnya kelahiran plasenta selama setengah jam setelah
kelahiran bayi, atau 1 -2 jam post partum tanpa perdarahan yang berlebihan jika
home birth Plasenta harus dikeluarkan karena dapat menimbulkan bahaya
perdarahan dan infeksi
Panjang
rata-rata waktu untuk kelahiran plasenta normal dalam homebirth saat menyusui
bayi yang baru lahir pada persalinan berkisar dari 15 menit hingga 45
menit.
Pada proses
persalinan, kelahiran placenta kadang mengalami hambatan yang dapat berpengaruh
bagi ibu bersalin. Dimana terjadi keterlambatan bisa timbul perdarahan yang
merupakan salah satu penyebab kematian ibu pada masa post partum. Apabila
sebagian placenta lepas sebagian lagi belum, terjadi perdarahan karena uterus
tidak bisa berkontraksi dan beretraksi dengan baik pada batas antara dua bagian
itu. Selanjutnya apabila sebagian besar placenta sudah lahir, tetapi sebagian
kecil masih melekat pada dinding uterus, dapat timbul perdarahan masa nifas.
Disamping kematian, perdarahan post partum akibat retensio placenta memperbesar
kemungkinan terjadinya infeksi puerperal karena daya tahan penderita yang
kurang. Oleh karena itu sebaiknya penanganan kala III pada persalinan mengikuti
prosedur tetap yang berlaku.
B. JENIS-JENIS
RETENSIO PLASENTA
Menurut tingkat perlekatannya, retensio placenta
dibedakan atas beberapa tingkatan yaitu sebagai berikut :
1. Placenta
Adhesiva; placenta melekat pada desidua endometrium lebih dalam
2. Placenta
Inkreta; placenta melekat sampai pada villi khorialis dan tumbuh lebih dalam
menembus desidua sampai miometrium.
3. Placenta
Akreta; placenta menembus lebih dalam kedalam miometrium tetapi belum mencapai
lapisan serosa.
4. Placenta
Perkreta; placenta telah menembus mencapai serosa atau peritonium dinding
rahim.
5. Placenta Inkarserata;
adalah tertahannya di dalam kavum uteri karena kontraksi ostium uteri.
C. ETIOLOGI
Penyebab
terjadinya Retensio Placenta adalah :
1. Placenta
belum lepas dari dinding uterus
Placenta yang belum lepas dari dinding uterus dapat terjadi karena
a. Kontraksii uterus
kurang kuat untuk melepaskan placenta,
b. Placenta yang
tumbuh melekat erat lebih dalam. Pada keadaan ini tidak terjadi perdarahan dan
merupakan indikasi untuk mengeluarkannya.
2. Placenta
sudah lepas tetapi belum dilahirkan. Keadaan ini dapat terjadi karena atonia
uteri dan dapat menyebabkan perdarahan yang banyak dan adanya lingkaran
konstriksi pada bagian bawah rahim. Hal ini dapat disebabkan karena
a. Penanganan kala
III yang keliru/salah dan
b. Terjadinya kontraksi
pada bagian bawah uterus yang menghalangi placenta (placenta inkaserata).
D. PATOFISIOLOGI
Dalam keadaan normal, desidua basalis terletak diantara miometium dan
plasenta Lempeng pembelahan bagi pemisahan palsenta berada dalam lapisan
desidua basalis yang mirip spons. Pada plasenta acreta, desidua basilis tidak
ada sebagian atau seluruhnya, sehingga plasenta melekat langsung pada
miometrium, villi tersebut bisa tetap supervisiailspd otot uterus atau dapat
menembus lebih dalam. Keadaan ini bukan terjadi karena sifat invasif trofoblast
yang abnormal, melainkan karena adanya efek pada desisdua.
E. MANIFESTASI
KLINIS
1.
Plasenta tidak lepas secara spontan atau
timbul perdarahan aktif setelah bayi dilahirkan.
2.
Pada pemeriksaan pervaginam, plasenta
tidak ditemukan di dalam kanalis servikalis tetapi secara parsial atau lengkap
menempel di dalam uterus
F. PENANGANAN
1.
Penanganan Umum
·
Jika placenta terlihat dalam vagina, mintalah ibu
untuk mengedan. Jika anda dapat merasakan placenta dalam vagina, keluarkan
placentaa tersebut.
·
Pastikan kandung kemih sudah kosong.
·
Jika placenta belum keluar, berikan oksitoksin 10 unti
i.m. Jika belum dilakukan pada penanganan aktif kala III.
·
Jika uterus berkontraksi, lakukan PTT.
·
Jika PTT belum berhasil cobalah untuk melakukan pengeluaran
placenta secara manual.
2.
Penanganan Khusus
a.
Retensio placenta dengan separasi parsial :
·
Tentukan jenis retensio yang terjadi.
·
Regangan tali pusat dan minta klien untuk mengedan,
bila ekspulsi placenta tidak terjadi, coba traksi terkontrol tali pusat.
·
Pasang infus oksitoksin 20 unit dalam 500 ml cairan
dengan 40 tetes/menit.
·
Bila traksi terkontrol gagal, lakukan manual placenta.
·
Transfusi jika perlu.
·
Beri antibiotik dan atasi komplikasi.
b.
Placenta inkaserata :
·
Tentukan diagnosa kerja
·
Siapkan alat dan bahan untuk menghilangkan konstriksi
serviks dan melahirkan plasenta.
·
Siapkan anastesi serta infus oksitoksin 20 ui dalam
500 ml dengan 40 tetes/menit.
·
Pemantauan tanda vital, kontraksi uterus, TFU,
perdarahan pasca tindakan.
c.
Placenta akreta :
·
Tentukan diagnosis
·
Stabilitas pasien
·
Rujuk klien ke RS karena tindakan kasus ini perlu
dioperasi.
d.
Placenta manual :
·
Kaji ulang indikasi dan persetujuan tindakan.
·
Kaji ulang prinsip perawatan dan pasang infus.
·
Berikan sedativa, analgetik, dan antibiotik dengan
dosis tunggal.
·
Pasang sarung tangan DTT.
·
Jepit tali pusat, tegangkan sejajar lantai.
·
Masukan tangan secara obstetrik menelusuri tali pusat
dan tangan lain menahan fundus uteri.
·
Cari insersi pinggir placenta dengan bagian lateral
jari-jari tangan.
·
Buka tangan obstetrik seperti memberi salam dan
jari-jari dirapatkan, untuk menentukan tempat implantasi.
·
Gerakan tangan secara perlahan bergeser kekranial
sehingga semua permukaan maternal plasenta dapat dilepaskan.
·
Jika tidak terlepas kemungkinan akreta. Siapkan untuk laparatomi.
·
Pegang plasenta, keluarkan tangan beserta plasenta
secara pelahan.
·
Pindahkan tangan luar kesupra simphisis untuk menahan
uterus saat placenta dikeluarkan, dan periksa placenta.
·
Berikan oksitoksin 10 iu dalam 500 ml cairan dengan 60
tts/menit.
·
Periksa dan perbaiki robekan jalan lahir.
·
Pantau tanda vital dan kontrol kontraksi uterus dan
TFU.
·
Teruskan infus dan transfusi jika perlu.
G. KOMPLIKASI
1. Syok
naemorargic
2. Sepsis
3. Multiple
organ failure yang berhubungan dengan kolaps sirkulasi dan penurunan perjusi
organ
H. ASUHAN
KEPERAWATAN
1. Pengkajian
Beberapa hal yang perlu dikaji dalam asuhan keperawatan pada ibu dengan
retensio placenta adalah sebagai berikut :
a. Identitas
klien
b. Data
biologis/fisiologis meliputi; keluhan utama, riwayat kesehatan masa lalu, riwayat
penyakit keluarga, riwayat obstetrik (GPA, riwayat kehamilan, persalinan, dan
nifas), dan pola kegiatan sehari-hari sebagai berikut :
1) Sirkulasi :
·
Perubahan tekanan darah dan nadi (mungkintidak tejadi
sampai kehilangan darah bermakna)
·
Pelambatan pengisian kapiler
·
Pucat, kulit dingin/lembab
·
Perdarahan vena gelap dari uterus ada secara eksternal
(placentaa tertahan)
·
Dapat mengalami perdarahan vagina berlebihan
·
Haemoragi berat atau gejala syock diluar proporsi
jumlah kehilangan darah.
2) Eliminasi :
·
Kesulitan berkemih dapat menunjukan haematoma dari
porsi atas vagina
3) Nyeri/Ketidaknyamanan
:
·
Sensasi nyeri terbakar/robekan (laserasi), nyeri tekan
abdominal (fragmen placenta tertahan) dan nyeri uterus lateral.
4) Keamanan :
·
Laserasi jalan lahir: darah memang terang sedikit
menetap (mungkin tersembunyi) dengan uterus keras, uterus berkontraksi baik;
robekan terlihat pada labia mayora/labia minora, dari muara vagina ke perineum;
robekan luas dari episiotomie, ekstensi episiotomi kedalam kubah vagina, atau
robekan pada serviks.
5) Seksualitas
:
·
Uterus kuat; kontraksi baik atau kontraksi parsial,
dan agak menonjol (fragmen placenta yang tertahan)
·
Kehamilan baru dapat mempengaruhi overdistensi uterus
(gestasi multipel, polihidramnion, makrosomia), abrupsio placenta, placenta
previa.
c. Pemeriksaan
fisik meliputi; keadaan umum, tanda vital, pemeriksaan obstetrik (inspeksi,
palpasi, perkusi, dan auskultasi).
d. Pemeriksaan
laboratorium. (Hb 10 gr%)
2.
Diagnosa
Keperawatan
a. Defisit
volume cairan tubuh berhubungan dengan kehilangan melalui vaskuler yang
berlebihan.
b. Resiko
tinggi terjadi Infeksi berhubungan dengan trauma jaringan.
c. Nyeri
berhubungan dengan trauma atau distensi jaringan.
d. Perubahan
perfusi jaringan berhubungan dengan hipovalemia.
e. Ancietas
berhubungan dengan ancaman perubahan pada status kesehatan.
f. Kurang
Pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi yang diperoleh.
3.
Diagnosa dan
Rencana Intervensi Keperawatan
a. Defisit
volume cairan tubuh berhubungan dengan kehilangan melalui vaskuler yang
berlebihan.
Intervensi :
·
Tinjau ulang catatan kehamilan dan
persalinan/kelahiran, perhatiakan faktor-faktor penyebab atau pemberat pada
situasi hemoragi (misalnya laserasi, fragmen plasenta tertahan, sepsis,
abrupsio plasenta, emboli cairan amnion atau retensi janin mati selama lebih
dari 5 minggu)
R/ Membantu dalam membuat rencana perawatan yang tepat
dan
memberikan
kesempatan untuk mencegah dan membatasi terjadinya komplikasi.
·
Kaji dan catat jumlah, tipe dan sisi perdarahan;
timbang dan hitung pembalut, simpan bekuan dan jaringan untuk dievaluasi oleh perawat.
R/ Perkiraan kehilangan darah, arteial versus vena,
dan adanya bekuan-
bekuan
membantu membuat diagnosa banding dan menentukan kebutuhan penggantian.
·
Kaji lokasi uterus dan derajat kontraksilitas uterus. Dengan
perlahan masase penonjolan uterus dengan satu tangan sambil menempatkan tangan
kedua diatas simpisis pubis.
R/ Derajat kontraktilitas uterus membantu dalam
diagnosa banding.
Peningkatan
kontraktilitas miometrium dapat menurunkan kehilangan darah. Penempatan satu
tangan diatas simphisis pubis mencegah kemungkinan inversi uterus selama
masase.
·
Perhatikan hipotensi atau takikardi, perlambatan
pengisian kapiler atau sianosis dasar kuku, membran mukosa dan bibir.
R/ Tanda-tanda ini menunjukan hipovolemi dan
terjadinya syok. Perubahan
pada tekanan
darah tidak dapat dideteksi sampai volume cairan telah menurun sampai 30 - 50%.
Sianosis adalah tanda akhir dari hipoksia.
·
Pantau parameter hemodinamik seperti tekanan vena
sentral atau tekanan baji arteri pulmonal bila ada.
R/ Memberikan pengukuran lebih
langsung dari volume sirkulasi dan
kebutuhan penggantian.
·
Lakukan tirah baring dengan kaki ditinggikan 20-30
derajat dan tubuh horizontal.
R/ Perdarahan dapat menurunkan atau menghentikan
reduksi aktivitas.
Pengubahan
posisi yang tepat meningkatkan aliran balik vena, menjamin persediaan darah
keotak dan organ vital lainnya lebih besar.
·
Pantau masukan dan keluaran, perhatikan berat jenis
urin.
R/ Bermanfaat dalam memperkirakan luas/signifikansi
kehilangan cairan.
Volume
perfusi/sirkulasi adekuat ditunjukan dengan keluaran 30 – 50 ml/jam atau lebih
besar.
·
Hindari pengulangan/gunakan kewaspadaan bila melakukan
pemeriksaan vagina dan/atau rektal
R/ Dapat meningkatkan hemoragi bila
laserasi servikal, vaginal atau
perineal atau hematoma terjadi.
·
Berikan
lingkungan yang tenang dan dukungan psikologis
R/ Meningkatkan relaksasi,
menurunkan ansietas dan kebutuhan metabolik.
·
Kaji nyeri perineal menetap atau perasaan penuh pada
vagina. Berikan tekanan balik pada laserasi labial atau perineal.
R/ Haematoma sering merupakan akibat dari perdarahan lanjut pada laserasi
jalan lahir.
·
Pantau klien dengan plasenta acreta (penetrasi sedikit
dari myometrium dengan jaringan plasenta), HKK atau abrupsio placenta terhadap tanda-tanda
KID (koagulasi intravascular diseminata).
R/ Tromboplastin dilepaskan selama upaya pengangkatan placenta secara
manual yang
dapat mengakibatkan koagulopati.
·
Mulai Infus 1 atau 2 i.v dari cairan isotonik atau
elektrolit dengan kateter !8 G atau melalui jalur vena sentral. Berikan darah
lengkap atau produk darah (plasma, kriopresipitat, trombosit) sesuai indikasi.
R/ Perlu untuk infus cepat atau multipel dari cairan atau produk darah untuk
meningkatkan
volume sirkulasi dan mencegah pembekuan.
·
Berikan obat-obatan sesuai indikasi :
§ Oksitoksin,
Metilergononovin maleat, Prostaglandin F2 alfa.
R/ Meningkatkan kontraktilitas dari uterus yang menonjol dan
miometrium, menutup sinus vena yang
terpajan, dan menghentikan hemoragi pada adanya atonia.
§ Magnesium
sulfat
R/ Beberapa penelitian melaporkan penggunaan MGSO4 memudahkan
relaksasi
uterus selama pemeriksaan manual.
§ Terapi
Antibiotik.
R/ Antibiotok bertindak secara profilaktik untuk mencegah infeksi atau
mungkin perlu diperlukan untuk
infeksi yang disebabkan atau diperberat pada subinvolusi uterus atau hemoragi.
·
Pantau pemeriksaan laboratotium sesuai indikasi : Hb
dan Ht.
R/ Membantu dalam menentukan kehilangan darah. Setiap ml darah
membawa 0,5
mgHb.
b. Resiko tinggi
terjadi Infeksi berhubungan dengan trauma jaringan.
Intervensi :
·
Demonstrasikan mencuci tangan yang tepat dan teknik
perawatan diri. Tinjau ulang cara yang tepat untuk menangani dan membuang
material yang terkontaminasi misalnya pembalut, tissue, dan balutan.
R/ Mencegah kontaminasi silang/penyebaran organinisme
infeksious..
·
Perhatikan perubahan pada tanda vital atau jumlah SDP
R/ Peningkatan suhu dari 100,4 ºF (38ºC) pada dua hari beturut-turut (tidak
menghitung 24 jam pertama pasca
partum), tachikardia, atau leukositosis dengan perpindahan kekiri menandakan
infeksi.
·
Perhatikan gejala malaise, mengigil, anoreksia, nyeri
tekan uterus atau nyeri pelvis.
R/ Gejala-gejala ini menandakan keterlibatan sistemik, kemungkinan
menimbulkan
bakterimia, shock, dan kematian bila tidak teratasi.
·
Selidiki sumber potensial lain dari infeksi, seperti
pernapasan (perubahan pada bunyi napas, batuk produktif, sputum purulent),
mastitis (bengkak, eritema, nyeri), atau infeksi saluran kemih (urine keruh,
bau busuk, dorongan, frekuensi, nyeri).
R/ Diagnosa banding adalah penting untuk pengobatan yang efektif.
·
Kaji keadaan Hb atau Ht. Berikan suplemen zat besi
sesuai indikasi.
R/ Anemia sering menyertai infeksi, memperlambat pemulihan dan merusak
sistem imun.
c. Nyeri berhubungan
dengan trauma atau distensi jaringan.
Intervensi :
·
Tentukan karakteristik, tipe, lokasi, dan durasi
nyeri. Kaji klien terhadap nyeri perineal yang menetap, perasaan penuh pada
vagina, kontraksi uterus atau nyeri tekan abdomen.
R/ Membantu dalam diagnosa banding dan pemilihan metode tindakan.
Ketidaknyamanan berkenaan dengan
hematoma, karena tekanan dari hemaoragik tersembunyi kevagina atau jaringan
perineal. Nyeri tekan abdominal mungkin sebagai akibat dari atonia uterus atau
tertahannya bagian-bagian placenta. Nyeri berat, baik pada uterus dan abdomen,
dapat terjadi dengan inversio uterus.
·
Kaji kemungkinan penyebab psikologis dari
ketidaknyamana.
R/ Situasi darurat dapat mencetuskan rasa takut dan ansietas, yang
memperberat
persepsi ketidaknyamanan.
·
Berikan tindakan kenyamanan seperti pemberian kompres
es pada perineum atau lampu pemanas pada penyembungan episiotomi.
R/ Kompres dingan meminimalkan edema, dan menurunkan hematoma serta
sensasi nyeri, panas meningkatkan
vasodilatasi yang memudahkan resorbsi hematoma.
·
Berikan analgesik, narkotik, atau sedativa sesuai
indikasi
R/ Menurunkan nyeri dan ancietas, meningkatkan relaksasi.
d. Perubahan
perfusi jaringan berhubungan dengan hipovalemia
Intervensi :
·
Perhatikan Hb/Ht sebelum dan sesudah kehilangan darah.
Kaji status nutrisi, tinggi dan berat badan.
R/ Nilai bandingan membantu menentukan beratnya kehilangan darah.
Status yang ada sebelumnya dari
kesehatan yang buruk meningkatkan luasnya cedera dari kekurangan oksigen.
·
Pantau tanda vital; catat derajat dan durasi episode
hipovolemik.
R/ Luasnya keterlibatan hipofisis dapat dihubungkan dengan derajat dan
durasi hipotensi. Penigkatan
frekuensi pernapasan dapat menunjukan upaya untuk mengatasi asidosis metabolik.
·
Perhatikan tingkat kesadaran dan adanya perubahan
prilaku.
R/ Perubahan sensorium adalah indikator dini dari hipoksia, sianosis, tanda
lanjut dan mungkin tidak tampak
sampai kadar PO2 turun dibawah 50 mmHg.
·
Kaji warna dasar kuku, mukosa mulut, gusi dan lidah,
perhatikan suhu kulit.
R/ Pada kompensasi vasokontriksi dan pirau organ vital, sirkulasi pada
pembuluh darah perifer diperlukan
yang mengakibatkan sianosis dan suhu kulit dingin.
·
Beri terapi oksigen sesuai kebutuhan
R/ Memaksimalkan ketersediaan oksigen untuk transpor sirkulasi
kejaringan.
·
Pasang jalan napas; penghisap sesuai indikasi
R/ Memudahkan pemberian oksigen.
e. Ancietas
berhubungan dengan ancaman perubahan pada status kesehatan.
Intervensi :
·
Evaluasi respon psikologis serta persepsi klien
terhadap kejadian hemoragii pasca partum. Klarifikasi kesalahan konsep.
R/ Membantu dalam menentukan rencana perawatan. Persepsi klien tentang
kejadian
mungkin menyimpang, akan memperberat ancietasnya.
·
Evaluasi respon fisiologis pada hemoragik pasca
partum; misalnya tachikardi, tachipnea, gelisah atau iritabilitas.
R/ Meskipun perubahan pada tanda vital mungkin karena respon fisiologis,
ini dapat
diperberat atau dikomplikasi oleh faktor-faktor psikologis.
·
Sampaikan sikap tenang, empati dan mendukung.
R/ Dapat membantu klien mempertahankan kontrol emosional dalam
berespon terhadap perubahan status
fisiologis. Membantu dalam menurunkan tranmisi ansietas antar pribadi.
·
Bantu klien dalam mengidentifikasi perasaan ansietas,
berikan kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaan.
R/ Pengungkapan memberikan kesempatan untuk memperjelas informasi,
memperbaiki kesalahan konsep, dan
meningkatkan perspektif, memudahkan proses pemecahan masalah.
·
Beritahu kepada klien tujuan dari setiap tindakan yang
akan dilakukan
R/ Kecemasan klien akan berkurang bila sebelum sebuah tindakan dilakukan
oleh
perawat.
f. Kurang
Pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi yang diperoleh.
Intervensi :
·
Jelaskan faktor predisposisi atau penyebab dan
tindakan khusus terhadap penyebab hemoragi.
R/ Memberikan informasi untuk membantu klien/pasangan memahami dan
mengatasi
situasi.
·
Kaji tingkat pengetahuan klien, kesiapan dan kemampuan
klien untuk belajar. Dengarkan, bicarakan dengan tenang, dan berikan waktu
untuk bertanya dan meninjau materi.
R/ Memberikan informasi yang perlu untuk mengembangkan rencana
perawatan individu. Menurunkan
stress dan ancietas, yang menghambat pembelanjaran, dan memberikan klarifikasi
dan pengulangan untuk meningkatkan pemahaman.
·
Diskusikan implikasi jangka pendek dari hemoragi pasca
partum, seperti perlambatan atau intrupsi pada proses kedekatan ibu-bayi (klien
tidak mampu melakukan perawatan terhadap diri dan bayinya segera sesuai
keinginannya).
R/ Menurunkan ansietas dan memberikan kerangka waktu yang realistis
untuk
melakukan ikatan serta aktivitas-aktivitas perawatan bayi.
·
Diskusikan implikasi jangka panjang hemoragi pasca
partum dengan tepat, misalnya resiko hemoragi pasca partum pada kehamilan
selanjutnya, ataonia uterus, atau ketidakmampuan untuk melahirkan anak pada
masa datang bila histerektomie dilakukan.
R/ Memungkinan klien untuk membuat keputusan berdasarkan informasi
dan mulai mengatasi perasaan tentang
kejadian-kejadian masa lalu dan sekarang.
BAB
III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Retensio placenta adalah keadaan dimana uri/placenta belum lahir dalam
waktu satu jam setelah bayi lahir
Ada dua keadaan yang menyebabkan terjadinya retensio placenta yaitu; (a)
placenta belum terlepas dari dinding rahim karena tumbuh melekat lebih dalam,
dan (b) placenta telah terlepas tetapi belum dapat dikeluarkan yang terjadi
akibat penanganan kala III yang salah.
Masalah keperawatan yang dapat terjadi pada atonia uteri adalah defisit
volume cairan tubuh, resiko terjadi infeksi, nyeri, gangguan perfusi jaringan,
ancietas, dan kurangnya pengetahuan klien tentang keadaannya.
B.
SARAN
Hemoragi pasca partum biasanya didefenisikan sebagai kehilangan darah lebih
dari 500 ml selama dan/atau setelah kelahiran. Ini adalah salah satu penyebab
tersering kematian pada ibu. Mudah-mudahan makalah ini memberikan wawasan
kepada kita tentang retensio sebagai salah satu penyebab perdarahan post
partum. Dan kepada ibu dosen pembimbing mata kuliah ini kiranya dapat
memberikan masukan, kritik dan saran guna melengkapi pengetahuan tentang
retensio placenta terutama yang berkaitan dengan asuhan keperawatan secara
lebih khusus pada ibu yang mengalami retensio placenta.
DAFTAR
PUSTAKA
Harry
Oxorn.1990.Ilmu Kebidanan Patofisiologi
dan Persalinan, Edisi Human Labor and
Birth, Yayasan Essentia Medica,
Mary Hamilton, 1995.Dasar-Dasar
Keperawatan Maternitas, EGC, Jakarta,
Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, Yayasan Bina
Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta, 2002.
Muliyati, Buku Panduan Kuliah Keperawatan Maternitas, Makassar, 2005.