Loading...

Monday, 6 June 2011

PENATALAKSANAAN BEDAH PADA OSTEOARTHRITIS LUTUT - 1970-01-01
________________________________________


Pendahuluan
Osteoarthritis (OA) adalah suatu kelainan sendi degenerative non inflamasi, terutama pada
penderita manula, ditandai oleh adanya proses degenerasi tulang rawan sendi, hipertrofi tepi
permukaan sendi tulang disertai kekakuan sesudah istirahat pasca kegiatan yang lama.
Nama atau istilah lain untuk OA adalah :
- Degenerative Osteoarthritis
- Hypertrophic Arthritis
- Degenerative Joint Disease, dan lain-lain.

POTOGENESIS

Etiologi pada sendi panggul dan lutut, banyak dikaitkan dengan factor biomekanik. Oleh karena itu pada keadaan tersebut persendian baik sendi panggul maupun sendi lutut, dapat diperhatikan pengaruh beban biomekanik pada terjadinya OA serta progresivitasnya, yaitu dengan konsep yang disebut sebagai primary stress (force permit area); stress = load, surface yang berarti stress yang memberikan beban pada permukaan.
Pada waktu berdiri, sendi lutut membuat sumbu anatomi dan sumbu mekanik yang pada umumnya membentuk sudut kurang dari 100 valgus.
Akibat stress pada tulang rawan sendi, maka terjadi proses use abuse, sehingga terjadi fibrilasi, erosi dan penipisan yang tidak teratur dengan akibat tulang dibawah tulang rawan yang rusak menjadi keras (eburnasi).
Timbulnya rasa sakit menyebabkan disuse atrophy baik dari otot maupun tulang pada dada stadium lanjut menimbulkan instabilitas, sehingga timbul tarikan pada tepi permukaan sendi oleh simpai sendi dan terbentuk osteophyte (spur).
Stabilitas sendi ditentukan oleh bentuk sendi, ligament, simpai sendi dan otot.
Pada proses degenerasi elastisitas jaringan akan berkurang, disertai gerakan (lingkup gerak sendi) yang menurun sehingga menimbulkan kekakuan sendi. Bergerak setelah istirahat akan menimbulkan tarikan yang berlebihan dan akan menimbulkan rasa sakit sebagai akibat timbulnya tension in tissue. Dengan demikian terjadilah suatu lingkaran circulus vitiosus yang mengakibatkan terjadi progresivitas proses regenerasi (use abuse); karena akibat rasa sakit maka terjadi imobilitas yang akan menambah kekakuan dan akan menimbulkan rasa sakit bila dipaksa bergerak dan seterusnya.(1)
Moskowitz RW. (2) OA terjadi sebagai akibat ketidakseimbangan proses sintesis dan katabolic. Enzim proteolitik dan kolagenolitik yang merusak tulang rawan akan menyebabkan meningkatnya inflamasi yang berkelanjutan. Bertambahnya usia akan menyebabkan bertambahnya pembentukan AGE’S (Advanced Glycation end Products).
Akibat terjadi cross linking matriks tulang rawan yang meningkat dan mengaktifkan cytokin seperti juga defek genetika yang spesifik dalam kolagen tipe II.

GEJALA KLINIK

Penderita OA lutut biasanya datang pada dokter dengan keluhan nyeri secara menahun yang hilang timbul pada lutut dan lama kelamaan kekuatan otot berkurang, tidak kuat dan sakit untuk naik turun tangga, sukar jongkok berdiri dan merasa kaku sehabis duduk lama untuk berdiri.
Adakalanya mengeluh lutut berbunyi (krepitas) atau bengkok dan jarang mengeluh bengkok walaupun sudah jelas timbul deformitas varus atau valgus (varus > valgus).
Pada pemeriksaan fisik penderita relative gemuk atau obese, lutut varus atau valgus dan terdapat extension lack. Adakalanya terdapat pembengkakan sinovia.dan fluktuasi (hydrops) disertai hipotrofi kuadrisep, sedangkan lingkup gerak bervariasi dari baik sampai terbatas fleksi dan teraba krepitasi patella. Joint laxity tidak selalu didapatkan karena kekakuan yang timbul, tidak seperti pada Charcot Knee. Pemeriksaan sendi panggul perlu dilakukan oleh karena nyeri lutut sering merupakan referred pain dari kelainan sendi panggul.(1)

PEMERIKSAAN RADIOLOGIS

Mengingat masalah OA lutut ada kaitannya dengan gangguan biomekanik, maka pemeriksaan X-ray harus dibuat pada posisi berdiri, AP, lateral, juga skyline view untuk melihat permukaan sendi patella-kondilar femur yang sering merupakan gejala pertama timbulnya keluhan lutut.
Yang perlu diperhatikan adalah gambaran sela sendi dan pembentukan osteofit serta ada tidaknya loose bodies.

PENATALAKSANAAN (TERAPI)

Setelah diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, serta pemeriksaan fisik dan radiologis, maka dapat diprogram terapi OA lutut.
Pada dasarnya terapi OA lutut adalah konservatif dengan pemberian medikamentosa berupa analgesic, NSAID (Non Steroid Anti Inflammation Drugs), ditambah dengan supplement glucosamine dan chondroitin, juga fisioterapi seperti diatermi dan latihan penguatan otot terutama kuadrisep dan hamstring, kalau perlu bracing. Tindakan bedah harus dipertimbangkan kerugian dan keuntungannya tergantung pada berat ringannya kelainan yang sudah timbul. (4.5)

1. Arthroscopy
Pada saat ini tindakan bedah yang mungkin paling ringan adalah arthroscopy (1,5) dan keuntungan yang didapat darinya adalah :
• Dapat untuk menegakkan diagnosis dan sekaligus terapi debridement (lavage) dan kalau ada loose body dapat sekaligus dikeluarkan.
• Debridemen dapat setelah mengurangi rasa sakit dan dapat diulangi kembali, oleh karena itu setelah arthroscopy perlu diikuti dengan latihan penguatan otot kuadrisep dan hamstring untuk stabilisasi sendi waktu berjalan dan berdiri.

2. Osteotomi (1,5)
§ Tindakan osteotomi adalah untuk memperbaiki biomekanik yang berubah akibat deformitas yang timbul, lebih-lebih pada penderita muda dengan OA sekunder sebagai akibat trauma yaitu cedera olahraga atau kecelakaan yang mengakibatkan fraktur. Juga mereka yang mengalami operasi meniscus, karena minisektomi mempunyai risiko timbulnya OA sekunder yang meningkat.
§ Pada deformitas varus, maka yang dikerjakan adalah high tibial osteotomy sedangkan pada deformitas valgus dilakukan supracondilar femur osteotomi untuk dapat memperbaiki garis biomekaniknya (alignment).



3. Arthroplasty (5)
§ Arthroplasty dikerjakan dengan joint replacement dapat dengan unicompartment atau total knee replacement (TKR).
§ TKR merupakan tindakan bedah persendian yang paling sukses pada saat ini.
Arthroplasty dimulai dengan konsep sederhana oleh Gunston pada tahun 1960 dan berkembang menjadi prosedur yang canggih dengan hasil yang sempurna pada saat ini. Arthroplasty dapat menghilangkan keluhan sakit untuk jangka waktu yang panjang (pada long term report) dan merupakan terapi pilihan untuk penyakit OA lutut lanjut namun tergantung pada usia dan beratnya penyakit.

4. Arthrodesis (5)
Walaupun TKR sudah member hasil yang baik dan dapat dilakukan pada usia yang lebih muda, arthrodesis masih merupakan cara mengatasi OA secara pembedahan untuk penderita muda yang aktif. Arthrodesis dilakukan juga pada keadaan dimana kondisi tulang tidak baik untuk rekontruksi atau pada gangguan ekstensi lutut. Saat ini arthrodesis dilakukan untuk tindakan salvage bila TKR gagal akibat infeksi.

(DARI KUMPULAN KULIAH PROF.SOELARTO REKSOPRODJO)

Thursday, 28 April 2011


A. PENGERTIAN
  1.  
Diare adalah: BAB lebih dari tiga dengan konsistensi cair (WHO, 1992)
Diare adalah buang air besar konsistensi lembek /cair bahkan dapat berupa air saja yang frekuensinya lebih sering dari biasanya ( biasanya 3 kali atau lebih dalam sehari). Jenis diare sbb :
  1. Menurut perjalanan penyakit :
    1. . Akut : jika kurang dari 1 minggu
    2. . Berkepanjangan : jika antara 1 minggu sampai 14 hari
    3. . Kronis : jika > 14 hari dan disebabkan oleh non infeksi
    4. . Persisten : Jika >14 hari dan disebabkan oleh infeksi
  2. Menurut patofisiologi :
    1. . Gangguan absorbsi
    2. . Gangguan sekresi
    3. . Gangguan osmotik
  3. Menurut penyebab :
    1. . Infeksi : Virus, bakteri, parasit,jamur
    2. . Konstitusi
    3. . Malabsorbsi
  4. Diare dengan masalah lain. Anak yang menderita diare mungkin juga disertai dengan penyakit lain, seperti : demam, gangguan gizi atau penyakit lainnya..
B. Penyebab diare
Penyebab diare dapat dibagi dalam beberapa faktor:
1. Infeksi
  1. Infeksi entral : ialah infeksi saluran pencernaan makanan yang merupakan penyebab diare pada anak meliputi infeksi interal sebagai berkut :
1.       
o     
      •  
        1.  
          1.  
            1. Infeksi bakteri: vibrio, E. coli, Salmonella, Sigela, Campylobakteri, Yersenia, Aerromonas dan sebagainya..
            2. Infeksi virus : Entro virus, adenovirus, Rotavirus, Astovirus dll.
            3. Infeksi parasit : Cacing protozoa dan jamur.
  1. Infeksi Parentral ialah ineksi diluar alat pencernaan makan seperti otitis media akut (OMA) tonsillitis/ Tonsiloparingitis, bronkhopnemonia , encepalitis dsb. Keadaan ini terutama tedapat pada anak kurang dari 2 tahun
2. Faktor Malabsorsi
a. Malabsorisi karbohidrat
b. Malabsorsi lemak
c. Malabsorsi Protein
3. Faktor makanan: Makanan basi, beracun alergi terhadap makanan.
4. Psikologis : rasa takut dan cemas
Faktor yang meningkatkan penyebaran kuman penyebab diare:
  • Tidak memadainya penyediaan air bersih
  • Air tercemar oleh tinja
  • Pembuangan tinja yang tidak hygienis
  • Kebersihan perorangan dan lingkungan jelek
  • Penyiapan dan penyimpanan makanan yang tidak semestinya
  • Penghentian ASI yang terlalu dini
C. Patogenesis
Mekanisme dasar yang menyebabkan timbulnya diare adalah:
1. Gangguan osmotic
Akibat terdapat makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan menyebabkan tekanan osmotic dalam rongga usus meninggi sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit kedalam rongga usus. Isi rongga usus yang berlebihan akan merangsang usus untuk mengeluarkanya sehingga timbul diare.
2. Gangguan sekresi
Akibat rangsang tertentu ( Misalnya toksin pada dinding usus akan terjadi peningkatan sekresi, air dan elektrolit kedalam rongga usus selanjutnya timbul diare karena terdapat peningkatan isi rongga usus
3. Gangguan motalitas usus
Hiperpristaltik akan mengakibatkan berkurangnya kesempatan usus menyerap makan seingga timbul diare. Sebaliknya bila pristaltik menurun akan mengakibatkan bakteri tumbuh berlebihan selanjutnya timbul diare pula.
Faktor penyakit / toksik ( misal toksin E. Coli )
Peningkatan peristaltik usus Peningkatan cairan intraluminar
Passase usus meningkat
Waktu henti makanan menurun frekwensi BAB meningkat
( Resiko Infeksi )
( Resiko kerusakan integritas kulit )
Penyerapan makanan, elektrolit terganggu pengeluaran cairan meningkat
Ketidak seimbangan cairan
Ketidakseimbagan nutrisi kurang
Resiko Hipo/hipertermi
Resiko Hipe/hipernatremi
Resiko Hipo/hiperkalemi
Asidosis Metabolik
Gambaran Klinik
Mula-mula pasien cengen gelisah, suhu tubuh biasanya meningkat nafsu makan berkurang atau tidak ada kemudian timbul diare. Tinja cair mungkin disertai ledir atau lendir dan darah. Warna tinja makin lama berubah kehijau-hijauan karena bercampur dengan empedu. Anus dan sekitarnya timbul lecet karena sering defekasi dan tinja makin lama makin asam sebagai akibat makin banyak asam laktat yang berasal dari laktose yang tidak diabsorbsi oleh usus selama diare.
Gejala muntah sebelum dan sesudah diare dan dapat menyebabkan lambung juga turut meradang, atau akibat gangguan asam basa dan elektrolit. Timbul dehidrasi akibat kebanyakan kehilangan cairan dan elektrolit . Gejala dehidrasi mulai nampak yaitu berat badan menurun turgor berkurang mata dan ubun-ubun besar menjadi cekung ( pada bayi), selaput lendir bibir dan mulut serta kulit tampak kering. Akibat dehidrasi diuresis berkurang ( oliguri sampai anuri). Bila sudah asidosis metabolis pasien akan tampak pucat dengan pernapasan cepat dan dalam (kussmaul). Asidosis metabolisme karena:
1. Kehilangan NaCO3 melalui tinja diare
2. Ketosis kelaparan
3. Produk- produk metabolik
4. Berpindahnya ion natrium dari cairan intra sel ke ekstrasel
5. Penimbunan laktat ( anoksia jaringan )
D. KOMPLIKASI
Akibat diare, kehilangan cairan dan elektrolit secara mendadak dapat terjadi berbagai komplikasi sebagai berikut:
  1.  
    1. Dehidrasi ( Ringan, berat hipotenik, isotonik hipertonik)
    2. Renjatan hipovolemik
    3. Hipoglikemi
    4. Intoleransi sekunder akibat kerusakan filimukosa usus dan defisiensi enzim laktase
    5. Hipokalemia
    6. Kejang terjadi akibat dehidrasi hipertonik
    7. Malnutrisi energi proteiN.
CARA MENILAI DEHIDRASI (WHO, 1992)
GEJALA DAN TANDA
TAK DEHIDRASI
DEHIDRASI TAK BERAT
DEHIDRASI BERAT
1. Keadaan Umum
Baik
Rewel, gelisah, lemah.
Apatis, tidak sadar
2. Mata
Tidak cekung
Cekung & kering
Sangat cekung,
3. Air Mata
Jika menangis masih ada
Jika menangis tidak ada
Jika menangis tidak ada
4. Bibir
Tidak kering
Kering
Sangat kering
5. Rasa Haus
Tidak merasa haus
Haus sekali, jika diberi minum rakus.
Tidak bisa minum
6. Cubitan Kulit
Jika dicubit cepat kembali
Jika dicubit kembali lambat
dicubit kembali sangat lambat.
E. PRINSIP PENATALAKSANAAN DIARE
  1. Mencegah terjadinya dehidrasi
  2. Mengobati Dehidrasi
  3. Memberi makanan
  4. Mengobati masalah lain
CARA MELAKUKAN REHIDRASI
DERAJAT
DEHIDRASI
KELOMPOK USIA
JENIS CAIRAN
VOLUME ml/kg BB
WAKTU
RINGAN
Semua kelompok
Oral
50
Tiap 4 jam
SEDANG
Semua kelompok
Oral
70
Tiap 4 jam
BERAT
Anak
Intra vena
70
Tiap 3 jam
BERAT dan SYOK
Semua kelompok
Intra vena
70 – 100
Tiap 4 jam
F. DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG SERING MUNCUL
  1. Ketidakseimbangan volume cairan kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kehilangan cairan melalui diare dan intake yang tidak adekuat
  2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan peningakatan peristaltik usus yang menyebabkan waktu penyerapan menurun
  3. Resiko infeksi
  4. Ketidakseimbangan elektrolit berhubungan dengan kehilangan elektrolit melalui tinja / diare
  5. PK : Hipo/hipernatremi
  6. PK : Hipe/hiperkalemi
  7. Resiko kerusakan intergritas kluit
  8. PK : Asidosis Metabolik

Dehidrasi adalah gangguan dalam keseimbangan cairan atau air pada tubuh. Hal ini terjadi karena pengeluaran air lebih banyak daripada pemasukan (misalnya minum). Gangguan kehilangan cairan tubuh ini disertai dengan gangguan keseimbangan zat elektrolit tubuh.
Dehidarasi terjadi karena
  • kekurangan zat natrium;
  • kekurangan air;
  • kekurangan natrium dan air.
Dehidrasi terbagi dalam tiga jenis berdasarkan penurunan berat badan, yaitu
Dehidrasi ringan (jika penurunan cairan tubuh 5 persen dari berat badan), dehidrasi sedang (jika penurunan cairan tubuh antara 5-10 persen dari berat badan), dan dehidrasi berat (jika penurunan cairan tubuh lebih dari 10 persen dari berat badan).
Selain mengganggu keseimbangan tubuh, pada tingkat yang sudah sangat berat, dehidrasi bisa pula berujung pada penurunan kesadaran, koma, hingga meninggal dunia, atau tidak.

Diare


A. PENGERTIAN
Diare adalah: BAB lebih dari tiga dengan konsistensi cair (WHO, 1992)
Diare adalah buang air besar konsistensi lembek /cair bahkan dapat berupa air saja yang frekuensinya lebih sering dari biasanya ( biasanya 3 kali atau lebih dalam sehari). Jenis diare sbb :
  1. Menurut perjalanan penyakit :
    1. . Akut : jika kurang dari 1 minggu
    2. . Berkepanjangan : jika antara 1 minggu sampai 14 hari
    3. . Kronis : jika > 14 hari dan disebabkan oleh non infeksi
    4. . Persisten : Jika >14 hari dan disebabkan oleh infeksi
  2. Menurut patofisiologi :
    1. . Gangguan absorbsi
    2. . Gangguan sekresi
    3. . Gangguan osmotik
  3. Menurut penyebab :
    1. . Infeksi : Virus, bakteri, parasit,jamur
    2. . Konstitusi
    3. . Malabsorbsi
  4. Diare dengan masalah lain. Anak yang menderita diare mungkin juga disertai dengan penyakit lain, seperti : demam, gangguan gizi atau penyakit lainnya..
B. Penyebab diare
Penyebab diare dapat dibagi dalam beberapa faktor:
1. Infeksi
  1. Infeksi entral : ialah infeksi saluran pencernaan makanan yang merupakan penyebab diare pada anak meliputi infeksi interal sebagai berkut :
1.       
o     
      •  
        1.  
          1.  
            1. Infeksi bakteri: vibrio, E. coli, Salmonella, Sigela, Campylobakteri, Yersenia, Aerromonas dan sebagainya..
            2. Infeksi virus : Entro virus, adenovirus, Rotavirus, Astovirus dll.
            3. Infeksi parasit : Cacing protozoa dan jamur.
  1. Infeksi Parentral ialah ineksi diluar alat pencernaan makan seperti otitis media akut (OMA) tonsillitis/ Tonsiloparingitis, bronkhopnemonia , encepalitis dsb. Keadaan ini terutama tedapat pada anak kurang dari 2 tahun
2. Faktor Malabsorsi
a. Malabsorisi karbohidrat
b. Malabsorsi lemak
c. Malabsorsi Protein
3. Faktor makanan: Makanan basi, beracun alergi terhadap makanan.
4. Psikologis : rasa takut dan cemas
Faktor yang meningkatkan penyebaran kuman penyebab diare:
  • Tidak memadainya penyediaan air bersih
  • Air tercemar oleh tinja
  • Pembuangan tinja yang tidak hygienis
  • Kebersihan perorangan dan lingkungan jelek
  • Penyiapan dan penyimpanan makanan yang tidak semestinya
  • Penghentian ASI yang terlalu dini
C. Patogenesis
Mekanisme dasar yang menyebabkan timbulnya diare adalah:
1. Gangguan osmotic
Akibat terdapat makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan menyebabkan tekanan osmotic dalam rongga usus meninggi sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit kedalam rongga usus. Isi rongga usus yang berlebihan akan merangsang usus untuk mengeluarkanya sehingga timbul diare.
2. Gangguan sekresi
Akibat rangsang tertentu ( Misalnya toksin pada dinding usus akan terjadi peningkatan sekresi, air dan elektrolit kedalam rongga usus selanjutnya timbul diare karena terdapat peningkatan isi rongga usus
3. Gangguan motalitas usus
Hiperpristaltik akan mengakibatkan berkurangnya kesempatan usus menyerap makan seingga timbul diare. Sebaliknya bila pristaltik menurun akan mengakibatkan bakteri tumbuh berlebihan selanjutnya timbul diare pula.
Faktor penyakit / toksik ( misal toksin E. Coli )
Peningkatan peristaltik usus Peningkatan cairan intraluminar
Passase usus meningkat
Waktu henti makanan menurun frekwensi BAB meningkat
( Resiko Infeksi )
( Resiko kerusakan integritas kulit )
Penyerapan makanan, elektrolit terganggu pengeluaran cairan meningkat
Ketidak seimbangan cairan
Ketidakseimbagan nutrisi kurang
Resiko Hipo/hipertermi
Resiko Hipe/hipernatremi
Resiko Hipo/hiperkalemi
Asidosis Metabolik
Gambaran Klinik
Mula-mula pasien cengen gelisah, suhu tubuh biasanya meningkat nafsu makan berkurang atau tidak ada kemudian timbul diare. Tinja cair mungkin disertai ledir atau lendir dan darah. Warna tinja makin lama berubah kehijau-hijauan karena bercampur dengan empedu. Anus dan sekitarnya timbul lecet karena sering defekasi dan tinja makin lama makin asam sebagai akibat makin banyak asam laktat yang berasal dari laktose yang tidak diabsorbsi oleh usus selama diare.
Gejala muntah sebelum dan sesudah diare dan dapat menyebabkan lambung juga turut meradang, atau akibat gangguan asam basa dan elektrolit. Timbul dehidrasi akibat kebanyakan kehilangan cairan dan elektrolit . Gejala dehidrasi mulai nampak yaitu berat badan menurun turgor berkurang mata dan ubun-ubun besar menjadi cekung ( pada bayi), selaput lendir bibir dan mulut serta kulit tampak kering. Akibat dehidrasi diuresis berkurang ( oliguri sampai anuri). Bila sudah asidosis metabolis pasien akan tampak pucat dengan pernapasan cepat dan dalam (kussmaul). Asidosis metabolisme karena:
1. Kehilangan NaCO3 melalui tinja diare
2. Ketosis kelaparan
3. Produk- produk metabolik
4. Berpindahnya ion natrium dari cairan intra sel ke ekstrasel
5. Penimbunan laktat ( anoksia jaringan )
D. KOMPLIKASI
Akibat diare, kehilangan cairan dan elektrolit secara mendadak dapat terjadi berbagai komplikasi sebagai berikut:
  1.  
    1. Dehidrasi ( Ringan, berat hipotenik, isotonik hipertonik)
    2. Renjatan hipovolemik
    3. Hipoglikemi
    4. Intoleransi sekunder akibat kerusakan filimukosa usus dan defisiensi enzim laktase
    5. Hipokalemia
    6. Kejang terjadi akibat dehidrasi hipertonik
    7. Malnutrisi energi proteiN.
CARA MENILAI DEHIDRASI (WHO, 1992)
GEJALA DAN TANDA
TAK DEHIDRASI
DEHIDRASI TAK BERAT
DEHIDRASI BERAT
1. Keadaan Umum
Baik
Rewel, gelisah, lemah.
Apatis, tidak sadar
2. Mata
Tidak cekung
Cekung & kering
Sangat cekung,
3. Air Mata
Jika menangis masih ada
Jika menangis tidak ada
Jika menangis tidak ada
4. Bibir
Tidak kering
Kering
Sangat kering
5. Rasa Haus
Tidak merasa haus
Haus sekali, jika diberi minum rakus.
Tidak bisa minum
6. Cubitan Kulit
Jika dicubit cepat kembali
Jika dicubit kembali lambat
dicubit kembali sangat lambat.
E. PRINSIP PENATALAKSANAAN DIARE
  1. Mencegah terjadinya dehidrasi
  2. Mengobati Dehidrasi
  3. Memberi makanan
  4. Mengobati masalah lain
CARA MELAKUKAN REHIDRASI
DERAJAT
DEHIDRASI
KELOMPOK USIA
JENIS CAIRAN
VOLUME ml/kg BB
WAKTU
RINGAN
Semua kelompok
Oral
50
Tiap 4 jam
SEDANG
Semua kelompok
Oral
70
Tiap 4 jam
BERAT
Anak
Intra vena
70
Tiap 3 jam
BERAT dan SYOK
Semua kelompok
Intra vena
70 – 100
Tiap 4 jam
F. DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG SERING MUNCUL
  1. Ketidakseimbangan volume cairan kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kehilangan cairan melalui diare dan intake yang tidak adekuat
  2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan peningakatan peristaltik usus yang menyebabkan waktu penyerapan menurun
  3. Resiko infeksi
  4. Ketidakseimbangan elektrolit berhubungan dengan kehilangan elektrolit melalui tinja / diare
  5. PK : Hipo/hipernatremi
  6. PK : Hipe/hiperkalemi
  7. Resiko kerusakan intergritas kluit
  8. PK : Asidosis Metabolik

Dehidrasi adalah gangguan dalam keseimbangan cairan atau air pada tubuh. Hal ini terjadi karena pengeluaran air lebih banyak daripada pemasukan (misalnya minum). Gangguan kehilangan cairan tubuh ini disertai dengan gangguan keseimbangan zat elektrolit tubuh.
Dehidarasi terjadi karena
  • kekurangan zat natrium;
  • kekurangan air;
  • kekurangan natrium dan air.
Dehidrasi terbagi dalam tiga jenis berdasarkan penurunan berat badan, yaitu
Dehidrasi ringan (jika penurunan cairan tubuh 5 persen dari berat badan), dehidrasi sedang (jika penurunan cairan tubuh antara 5-10 persen dari berat badan), dan dehidrasi berat (jika penurunan cairan tubuh lebih dari 10 persen dari berat badan).
Selain mengganggu keseimbangan tubuh, pada tingkat yang sudah sangat berat, dehidrasi bisa pula berujung pada penurunan kesadaran, koma, hingga meninggal dunia, atau tidak.
 
TOP