Loading...

Thursday, 2 August 2012

Nefrolitiasis

A.Pengertian
Nefrolitiasis adalah adanya batu pada atau kalkulus dalam velvis renal, sedangkan urolitiasis adalah adanya batu atau kalkulus dalam sistem urinarius. Urolithiasis mengacu pada adanya batu (kalkuli) ditraktus urinarius. Batu terbentuk dari traktus urinarius ketika konsentrasi subtansi tertentu seperti kalsium oksalat, kalsium fosfat, dan asam urat meningkat.

B.Etiologi
Batu terbentuk dari traktus urinarius ketika konsentrasi subtansi tertentu seperti kalsium oksalat, kalsium fosfat, dan asam urat meningkat. Batu juga dapat terbentuk ketika terdapat defisiensi subtansi tertentu, seperti sitrat yang secara normal mencegah kristalisasi dalam urine. Kondisi lain yang mempengaruhi laju pembentukan batu mencakup pH urin dan status cairan pasien (batu cenderung terjadi pada pasien dehidrasi).

C.Patofisiologi
Batu dapat ditemukan disetiap bagian ginjal sampai kekandung kemih dan ukuran bervariasi dari defosit granuler yang kecil, yang disebut pasir atau kerikil, sampai batu sebesar kandung kemih yang berwarna oranye. Factor tertentu yang mempengaruhi pembentukan batu, mencakup infeksi, statis urine, periode immobilitas. Factor-faktor yang mencetuskan peningkatan konsentrasi kalsium dalam darah dan urine, menyebabkan pembentukan batu kalsium.

D.Manifestasi klinik
Adanya batu dalam traktius urinarius tergantung pada adanya obstruksi, infeksi, dan edema. Ketika betu menghambat aliran urin, terjadi obstruksi, menyebabkan peningkatan tekanan hidrostatik dan distensi piala ginjal serta ureter proksimal. Infeksi dan sistisis yang disertai menggigil, demam, dan disuria dapat terjadi dari iritasi batu yang terus menerus. Beberapa batu, jika ada, menyebabkan sedikit gejala namun secara perlahan merusak unit fungsional ginjal. Sedangkan yang lain menyebabkan nyeri yang luar biasa dan menyebabkan ketidaknyamanan. Batu di piala ginjal mungkin berkaitan dengan sakit yang dalam dan terus menerus diarea konstovertebral. Hematuria dan piuria dapat dijumpai. Batu yang terjebak diureter menyebabkan gelombang nyeri yang luar biasa, akut, kolik, yang menyebar kepaha dan genitalia. Pasien merasa selalu ingin berkemih, namun hanya sedikit urin yang keluar dan biasanya mengandung darah akibat aksi abrasive batu. Batu yang terjebak dikandung kemih biasanya menyebabkan gejala iritasi dan berhubungan dengan infeksi traktus urinarius dan hematuria.

E.Evaluasi diagnostic
Diagnosis ditegakkan dengan studi ginjal, ureter, kandung kemih (GUK), uregrafi intravena, atau pielografi retrograde. Uji kimia darahdan urine 24 jam untuk mengukur kadar kalsium, asam urat, kreatinin, natrium, pH, dan volume total merupkan bagian dari upaya diagnostic. Riwayat diet dan medikasi serta riwayat adanya batu ginjal dalam keluarga didapatkan untuk mengidentifikasi factor yang mencetuskan terbentuknya batu pada pasien.

F.Penatalaksanaan
Tujuan dasar penatalaksanaan adalah untuk menghilangkan batu, menentukan jenis batu, mencegah kerusakan nefron, mengendalikan infeksi, dan mengurangi obstruksi yang terjadi.

PROSES KEPERAWATAN
A.Pengkajian
Aktivitas istirahat
Gejala : pekerjaan monoton, pekerjaan dimana pasien terpajang pada lingkungan bersuhu tinggi. Keterbatasan aktivitas/immobilisasi sehubungan dengan kondisi sebelumnya.
Sirkulasi
Tanda : peningkatan TD/nadi (nyeri, ansietas, gagal jantung). Kulit hangat dan kemerahan, pucat.
Eliminasi
Gejala : riwayat adanya ISK kronis, obstruksi sebelumnya (kalkulus), penurunan haluaran urine, kandung kemih penuh, rasa terbakar, dorongan berkemih, diare.
Tanda : oliguria, hematuria, piuria, dan perubahan pola berkemih.
Makanan/cairan
Gejala : mual/muntah, nyeri tekan abdomen, diet tinggi purin, kalsium oksalat, dan atau fosfat, ketidakcukupan pemasukan cairan, tidak minum air dengan cukup.
Tanda : distensi abdominal, penurunan atau takadanya bising usus, dan muntah.

B.Diagnosa keperawatan
1)Nyeri akut berhubungan dengan peningkatan frekuensi/dorongan kontraksi ureteral.
2)Perubahan eliminasi urine berhubungan dengan stimulasi kandung kemih oleh batu, iritasi ginjal atau ureteral.
3)Resiko tinggi terhadap kekuranganm volume cairanberhubungan dengan mual/muntah
4)Kurangnya pemngetahuan tentang kondisi, prognosis, dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurang terpajang/mengingat, salah interpretasi informasi.

C.Intervensi dan perencanaan
1)Nyeri akut berhubungan dengan peningkatan frekuensi/dorongan kontraksi ureteral.
a)Catat lokasi lamanya intensitas, dan penyebarannya
R/ membantu mengevaluasi tempat obstruksi dan kemajuan gerakan kalkulus
b)Jelaskan penyebab nyeri dan pentingnya melaporkan kestaff terhadap perubahan kejadian/karakteristik nyeri
R/ memberikan kesempatan terhadap pemberian analgesi sesuai waktu
c)Berikan tindakan nyaman, contoh pijatan punggung dan lingkungan istirahat.
R/ Meningkatkan relaksasi, menurungkan tegangan otot dan meningkatkan koping.
d)Berikan obat anti nyeri
R/ untuk menurungkan rasa nyeri
2)Perubahan eliminasi urine berhubungan dengan stimulasi kandung kemih oleh batu, iritasi ginjal atau ureteral.
a)Awasi pemasukan dan pengeluaran serta karakteristik urine
R/ memberikan informasi tentang fungsi ginjal dan adanya komplikasi
b)Tentukan pola berkemih pasien dan perhatikan variasi
R/ kalkulus dapat menyebabkan eksitabilitas saraf, yang menyebabkan sensasi kebutuhan berkemih segera.
c)Dorong meningkatkan pemmasukan cairan
R/ peningkatan hidrasi dapat membilas bakteri, darah, dan debris dan dapat membantu lewatnya batu
d)Awasi pemeriksaan laboratorium
R/ peninggian BUN, kreatinin, dan elektrolit mengindikasikan disfungsi ginjal.
3)Resiko tinggi terhadap kekuranganm volume cairanberhubungan dengan mual/muntah
a)Awasi pemasukan dan pengeluaran cairan
R/ membandingkan keluaran aktual dan yang diantisipasi membanu dalam evaluasi adanya kerusakan ginjal
b)Catat insiden muntah
R/ Mual/muntah secara umum berhubungan dengan kolik ginjal karena sartaf ganglion seliaka pada kedua ginjal dan lambung
c)Tingkatkan pemasukan cairan 3-4 liter/hari dalam toleransi jantung
R/ Mempertahankan keseimbangan cairan untuk homeostatis
d)Awasi tanda vital
R/ indikator hidrasi/volume sirkulasi dan kebutuhan intervensi
e)Berikan cairan IV
R/ mempertahankan volume sirkulasi meningkatkan fungsi ginjal
4)Kurangnya pemngetahuan tentang kondisi, prognosis, dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurang terpajang/mengingat, salah interpretasi informasi.
a)Kaji ulang proses pemnyakit dan harapan masa depan
R/ memberikan pengetahuan dasar dimana pasien dapat membuat pilihan berdasarkan informasi
b)Tekankan pentingnya pemasukan cairan
R/ pembilasan sistem ginjal menurungkan kesempatan statis ginjal dan pembentukan batu
c)Diaskusikan program pengobatan
R/ obat-obatan diberikan untuk mengasamkan atau mengalkalikan urine

D.Evaluasi
Dari intervensi yang dilakukan beberapa hasil yang kitaharapkan adalah sebagai berikut :
1)Nyeri hilang/terkontrol
2)Keseimbangan cairan dan elektrolit dipertahankan
3)Mencegah Komplikasi
4)Proses penyekit/prognosis dan program terapi dipahami

BNO-IVP

BNO IVP (blaas nier oversight) atau KUB (Kidney Ureter Bladder) IVU (Intra Venous Urography)
Adalah suatu tindakan untuk memvisualisasikan anatomi, dan fungsi ginjal ureter dan kandung kencing. Termasuk didalamnya fungsi pengisian dan pengosongan buli. Pemeriksaan ini diindikasikan untuk:
- Kecurigaan adanya batu disaluran kencing.
- Kecurigaan tumor/keganasan traktus urinarius.
- Gross hematuria.
- Infeksi traktus urinarius yang berulang setelah terapi antibiotik yang adekuat.
-  Pasca trauma deselerasi dengan hematuria yang bermakna.
-  Trauma dengan jejas di flank dengan riwayat shock, dan shok telah stabil.
-  Menilai/evaluasi/follow up tindakan urologis sebelumnya.
Untuk trauma traktus urinarius gold standard adalah CT scan dengan kontras. Dilakukan BNO-IVP jika tidak dapat dilaksanakan CT scan (biaya, tidak adanya fasilitas). Untuk usia anak anak, jika terdapat hematuria berapapun (any degree of hematuria) telah masuk indikasi BNO IVP, meskipun tidak terdapat riwayat shock.

Tindakan ini dikontraindikasikan bagi:
- Pasien yang alergi terhadap komponen kontras (iodine).
- Mengkonsumsi metformin.
- Kehamilan
Untuk pasien yang mengkonsumsi metformin tidak diperkenankan BNO-IVP oleh karena dapat terjadi asidosis metabolik. Untuk pemeriksaan BNO-IVP pasien yang mengkonsumsi metformin harus stop minum metformin minimal 48 jam sebelum BNO-IVP dan minum metformin lagi setelah 72 jam.
Syarat BNO-IVP adalah keatinin kurang dari 2 mg/dl. Jika kadar kreatinin lebih dari 2 mg/dL maka dilakukan BNO-USG dan renogram.
Pesiapan BNO-IVP, seumpama foto dilakukan pukul 08.00 WIB, persiapan hari sebelumnya:
- Diit rendah gas dan rendah residu minimal 24 jam sebelum foto. Biasa diberikan bubur kecap.
- Stop makan pukul 20.00 WIB.
- Berikan garam Inggris pukul 22.00. minum terakhir pukul 22.00.
- Lavement dengan gliserin 125 cc pada pukul 05.00 WIB hari tindakan.
- Foto BNO-IVP 08.00 WIB dengan didahului skin test kontras.
Perlu diperhatikan, pasien harus puasa bicara sejak 1 hari sebelum tindakan. (kioswikan)

radiologi ginjal
Pemeriksaan radiologi untuk traktus urinarius ada 2:
• Konvensional, yang masih pakai sinar-X untuk pencitraan, baik dengan kontras atau tanpa kontras. Khusus untuk urologi, kontras dimasukkan lewat vena atau saluran kencing.
• Nonkonvensional, contohnya CT Scan, MRI, USG.

KONVENSIONAL
1. Foto Polos Abdomen (Tanpa Kontras)
Nama lainnya di bahasa Belanda adalah BNO. Fungsi pemeriksaan ini adalah untuk menilai kontur ginjal dan garis psoas. Perlu diingat bahwa pada foto polos, lapisan kapsul lemak otot bisa terlihat, tapi otot dan ureter tidak terlihat. Jadi maksudnya garis psoas itu pembungkusnya otot psoas. Bila ada bayangan radioopak (putih) di traktus urinarius, kemungkinan itu batu.
Indikasi BNO ini adalah untuk persiapan IVP, curiga batu, dan curiga tumor.

2. IVP/PVI (Pielografi Intravena)
Fungsinya adalah untuk menilai anatomi dan fungsi ginjal. Jadi tubuh disuntikin kontras yang akan keluar lewat kencing, sehingga urin terwarnai jadi opak saat di rontgen. Zat yang disuntikin iodium. Sebelum IVP, pasien harus melakukan beberapa persiapan seperti:
1. Kreatinin dan ureum normal (ureum 40-50 max, kreatinin max 2 mg), hal ini penting untuk meyakinkan bahwa kondisi ginjal normal. Karena kontras dapat bersifat nefrotoksik.
2. Diet rendah serat, agar fecal mass sedikit (serat membentuk massa feses) dan tidak menghalangi ginjal saat difoto
3. Makan malam ringan
4. Laksatif (untuk memicu buang air besar, sehingga bayangan fese tidak mengganggu saat di foto)
5. Puasa 6-10 jam untuk mencegah adanya rongga udara yang bisa menghalangi pencitraan dan untuk mencegah reaksi alergi. (Biasanya kontras di skin-test dulu buat jaga2 kalo alergi)
6. Tidak merokok dan sedikit bicara sebelum pemeriksaan.

Sebelum IVP dilakukan, biasanya dilakukan foto polos untuk menilai persiapan si pasien, apakah sudah sempurna atau belum, dan untuk melihat bayang2 radioopak di sal. Kencing dan di luar sal. Kencing, dan vertebra dan pelvis.

- Foto pada menit ke-5 dan ke-10 setelah disuntikan kontras bertujuan buat melihat anatomi pelviokalises, dan fungsi sekresi dan ekskresi ginjal. Supaya pelviokalises jelas, perut dikompresi pake bola tenis dari paravertebral atau di atas simfisis pubis supaya ureter terbendung. Bila gambar masih belum jelas, difoto dengan tomografi. Bentuk pelviokalises ada yang dendritik (kurus), ampular (gemuk), dan transisional yang campuran keduanya.

- Foto pada menit ke-20 untuk melihat aliran ureter dan vesika urinaria. Apabila belum kelihatan, tunggu sampe 60 menit sampe 24 jam (mungkin ada sumbatan).

- Foto pada menit ke-30 berfungsi buat melihat bagian distal ureter dan dinding anterior vesika urinaria. Pasien dalam posisi tengkurap(prone), untuk memanfaatkan gravitasi biar bagian distal ureter yang memanjang ke ventral bisa kelihatan.

- Foto berikutnya adalah full blast, untuk melihat buli-buli yang penuh. Kemudian dilanjutkan oleh foto setelah miksi untuk melihat ada gak refluks karena bendungan dari adanya kontras yang tersisa.

3. Tomogram
Tomogram sebenarnya foto polos juga, cuman sepertinya difoksukan pada kedalaman tubuh tertentu. Jadi kalo mau foto ginjal, yang difoto sesuai dengan ketinggian si ginjal. Rumus jarak ginjal adalah= [(abdomen-meja)/3]+1. Di mana posisi 0 ada di meja. Dengan tomografi, bagian-bagian yang dapat ngalangin ginjal seperti usus tidak akan keliatan, jadi yang kefoto hanya ginjalnya saja. Tapi jeleknya, gambarnya jadi buram.

4. Urografi Retrograde
Digunakan bila IVP masih kurang jelas menggambarkan sistem pelviokalises dan ureter. Terbagi jadi 2:
1. RPG (Retrograde pyelography)
Dengan persiapan yang sama dengan PIV, pelvis dan ureter difoto dengan fluoroskopi, jadi yang difoto bisa diliat secara aktual pake tv. Dengan bantuan sistoskopi, kateter dimasukin sampe pelvis, trus sambil ditarik sedikit-sedikit, kontras dialirkan keluar kateter.

2. APG (Anterograde pyelography)
Masih dengan fluoroskopi, dilakukan dengan didahului dengan nefrostomi, trus lewat nefrostomi, kontras dimasukin lewat kulit langsung ke pelviokalises. Dilakukan bila RPG sudah gak bisa (ureter kelewat sempit).


5. Sistogram/Cystography
Indikasinya untuk evaluasi intrabuli. Pake fluoroskopi, pake kateter folley yang dimasukin sampe buli-buli, trus kontras dimasukin lewat situ. Untuk pasien retensio urin, dapat digunakan kateter suprapubis (kateter langsung nembus kulit ke buli-buli)

6. Uretrocystography
Untuk mengevaluasi uretra dan buli, masih dengan fluoroskopi. Biasanya untuk cowok karena uretra wanita pendek. Ujung kateter folley atau spuit dpasang di ujung penis, kemudian kontras dimasukin. Normalnya, uretra pars prostatika sempit.

7. Uretrografi
Untuk mengevaluasi saluran uretra untuk ngeliat striktur atau divertikel. Caranya sama aja kayak uretrosistografi

NONKONVENSIONAL
1. USG
USG banyak keuntungannya, yaitu tidak invasif, tidak menggunakan radiasi, mudah tersedia, dan portable, bisa dibawa2 kayak laptop. Tapi kekurangannya sangat operator-dependent, jadi kalo bukan ahlinya, bisa gak ngerti dengan apa yang dilihat.
Gelombang suara yang dikeluarin kurang lebih 1-15 Mhz, diarahin ke badan oleh transduser, kemudian oleh jaringan akan diserap, dipantulkan, atau dibiaskan, tergantung kepadatannya. Semakin padat, semakin kuat yang dipantulin dan semakin kecil gelombang yang diteruskan ke bawahnya. Contoh jaringan yang pantulannya kuat tapi gak meneruskan gelombang tuh tulang. Untuk kepala, probe(pemancar gelombang) yang digunakan adalah tipe sector. Untuk memeriksa lipoma, pakai gelombang 7,5 Mhz, sedangkan untuk hati dan abdomen pakai yang frekuensinya lebih besar.
Teknik Pemeriksaan USG Ginjal:
- Posisi supine & lateral decubitus
- Menggunakan gel sebagai coupling medium
- Transduser 3,5 MHz yang umum dipakai. Transduser 5 MHz untuk menghasilkan gambar yang sangat baik pada anak-anak/ dewasa kurus.
- Menahan nafas pada saat inspirasi maksimal memindahkan ginjal ke arah inferior sekitar 2,5 cm dan dapat menghasilkan gambar lebih baik.
Teknik Pemeriksaan USG Ginjal(2)
-- USG Ginjal kanan:
-Transduser sepanjang batas lateral subkostal kanan pada garis aksilaris anterior selama menahan napas saat inspirasi.
-- USG Ginjal kiri:
- Pasien pada posisi right lateral decubitus dan probe di garis aksilaris posterior kiri atau di sudut kostovertebra kiri.


2. CT SCAN
Cara kerjanya adalah lewat perbedaan daya serap jaringan sewaktu sinar X menembus jaringan, sehingga kepadatan jaringan bisa dibedakan dengan Houndsfield Unit (HU). Contohnya air dan udara yang nilai HU-nya 1 atau 0.
CT Scan ginjal bisa menggunakan kontras ataupun tidak. Indikasinya terutama untuk staging tumor, untuk melihat batu, dan melihat anatomi secara lebih jelas.

3. MRI
Cara kerja MRI adalah memanfaatkan inti atom yang bergetar dalam medan magnet. Kekuatan medan magnetnya mulai dari 0,3 T - 0,5 T - 1 T - 1,5 T - 2 T - 3 T - 7 T. Yang 7T Cuma ada di Amerika buat penelitian. Makin tinggi kekuatan medan magnetnya, makin bagus gambar yang dihasilkan. Berikut keuntungan dan kerugian MRI:
Keuntungan :
- Tidak memakai sinar X
- Dapat menunjukkan parameter biologik ( jaringan padat atau cair )
- Menghasilkan 3 jenis potongan tehadap jaringan tubuh manusia ( aksial , coronal dan sagital ataupun sesuai posisi organ yang diperiksa)
- Menggunakan kontras gadolinium, tidak menyebabkanefek allergi
Kerugian :
- Dibutuhkan waktu yang lebih lama dan pasien yang kooperatif/ bisa tenang selam pemeriksaan
à Copas slide
Ada juga yang namanya MRU (Magnetic Resonance Urography), utamanya untuk melihat adanya bendungan di saluran kencing. Tapi kalo ga ada bendungan, ya ga keliatan apa-apa. Soalnya dia ga pake kontras.

4. Kedokteran Nuklir/ Renal scintigraphy
Caranya dengan masukin zat radioaktif, kemudian dinilai lewat grafik.

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN KOLIK ABDOMEN



A. PENGERTIAN
Kolik Abdomen adalah gangguan pada aliran normal isi usus sepanjang traktus intestinal (Nettina, 2001). Obstruksi terjadi ketika ada gangguan yang menyebabkan terhambatnya aliran isi usus ke depan tetapi peristaltiknya normal (Reeves, 2001).
B. ETIOLOGI
1. Mekanis
q Adhesi/perlengketan pascabedah (90% dari obstruksi mekanik)
q Karsinoma
q Volvulus
q Intususepsi
q Obstipasi
q Polip
q Striktur
2. Fungsional (non mekanik)
q Ileus paralitik
q Lesi medula spinalis
q Enteritis regional
q Ketidakseimbangan elektrolit
q Uremia
C. MANIFESTASI KLINIK
1. Mekanika sederhana – usus halus atas
Kolik (kram) pada abdomen pertengahan sampai ke atas, distensi, muntah empedu awal, peningkatan bising usus (bunyi gemerincing bernada tinggi terdengar pada interval singkat), nyeri tekan difus minimal.
2. Mekanika sederhana – usus halus bawah
Kolik (kram) signifikan midabdomen, distensi berat,muntah – sedikit atau tidak ada – kemudian mempunyai ampas, bising usus dan bunyi “hush” meningkat, nyeri tekan difus minimal.
3. Mekanika sederhana – kolon
Kram (abdomen tengah sampai bawah), distensi yang muncul terakhir, kemudian terjadi muntah (fekulen), peningkatan bising usus, nyeri tekan difus minimal.
4. Obstruksi mekanik parsial
Dapat terjadi bersama granulomatosa usus pada penyakit Crohn. Gejalanya kram nyeri abdomen, distensi ringan dan diare.
5. Strangulasi
Gejala berkembang dengan cepat; nyeri parah, terus menerus dan terlokalisir; distensi sedang; muntah persisten; biasanya bising usus menurun dn nyeri tekan terlokalisir hebat. Feses atau vomitus menjadi berwarna gelap atau berdarah atau mengandung darah samar.
D. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Sinar x abdomen menunjukkan gas atau cairan di dalam usus
2. Barium enema menunjukkan kolon yang terdistensi, berisi udara atau lipatan sigmoid yang tertutup.
3. Penurunan kadar serum natrium, kalium dan klorida akibat muntah; peningkatan hitung SDP dengan nekrosis, strangulasi atau peritonitis dan peningkatan kadar serum amilase karena iritasi pankreas oleh lipatan usus.
4. Arteri gas darah dapat mengindikasikan asidosis atau alkalosis metabolik.
E. PENATALAKSANAAN MEDIS/BEDAH
1. Koreksi ketidakseimbangan cairan dan elektrolit :
2. Terapi Na+, K+, komponen darah
3. Ringer laktat untuk mengoreksi kekurangan cairan interstisial
4. Dekstrosa dan air untuk memperbaiki kekurangan cairan intraseluler
5. Dekompresi selang nasoenteral yang panjang dari proksimal usus ke area penyumbatan; selang dapat dimasukkan dengan lebih efektif dengan pasien berbaring miring ke kanan.
6. Implementasikan pengobatan unutk syok dan peritonitis.
7. Hiperalimentasi untuk mengoreksi defisiensi protein karena obstruksi kronik, ileus paralitik atau infeksi.
8. Reseksi usus dengan anastomosis dari ujung ke ujung.
9. Ostomi barrel-ganda jika anastomosis dari ujung ke ujung terlalu beresiko.
10. Kolostomi lingkaran untuk mengalihkan aliran feses dan mendekompresi usus dengan reseksi usus yang dilakukan sebagai prosedur kedua.
F. PENGKAJIAN
1. Umum :
Anoreksia dan malaise, demam, takikardia, diaforesis, pucat, kekakuan abdomen, kegagalan untuk mengeluarkan feses atau flatus secara rektal, peningkatan bising usus (awal obstruksi), penurunan bising usus (lanjut), retensi perkemihan dan leukositosis.
2. Khusus :
a. Usus halus
q Berat, nyeri abdomen seperti kram, peningkatan distensi
q Distensi ringan
q Mual
q Muntah : pada awal mengandung makanan tak dicerna dan kim; selanjutnya muntah air dan mengandung empedu, hitam dan fekal
q Dehidrasi
b. Usus besar
q Ketidaknyamana abdominal ringan
q Distensi berat
q Muntah fekal laten
q Dehidrasi laten : asidosis jarang
G. DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN INTERVENSI
1. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan mual, muntah, demam dan atau diforesis.
Tujuan : kebutuhan cairan terpenuhi
Kriteria hasil :
a. Tanda vital normal
b. Masukan dan haluaran seimbang
Intervensi :
c. Pantau tanda vital dan observasi tingkat kesadaran dan gejala syok
d. Pantau cairan parentral dengan elektrolit, antibiotik dan vitamin
e. Pantau selang nasointestinal dan alat penghisap rendah dan intermitten. Ukur haluaran drainase setiap 8 jam, observasi isi terhadap warna dan konsistensi
f. Posisikan pasien pada miring kanan; kemudian miring kiri untuk memudahkan pasasse ke dalam usus; jangan memplester selang ke hidung sampai selang pada posisi yang benar
g. Pantau selang terhadap masuknya cairan setiap jam
h. Kateter uretral indwelling dapat dipasang; laporkan haluaran kurang dari 50 ml/jam
i. Ukur lingkar abdomen setiap 4 jam
j. Pantau elektrolit, Hb dan Ht
k. Siapkan untuk pembedahan sesuai indikasi
l. Bila pembedahan tidak dilakukan, kolaborasikan pemberian cairan per oral juga dengan mengklem selang usus selama 1 jam dan memberikanjumlah air yang telah diukur atau memberikan cairan setelah selang usus diangkat.
m. Buka selang, bila dipasang, pada waktu khusus seusai pesanan, untuk memperkirakan jumlah absorpsi.
n. Observsi abdomen terhadap ketidaknyamanan, distensi, nyeri atau kekauan.
o. Auskultasi bising usus, 1 jam setelah makan; laporkan tak adanya bising usus.
p. Cairan sebanyak 2500 ml/hari kecuali dikontraindikasikan.
q. Ukur masukan dan haluaran sampai adekuat.
r. Observasi feses pertama terhadap warna, konsistensi dan jumlah; hindari konstipasi
2. Nyeri berhubungan dengan distensi, kekakuan
Tujuan : rasa nyeri teratasi atau terkontrol
Kriteria hasil : pasien mengungkapkan penurunan ketidaknyamanan; menyatakan nyeri pada tingkat dapat ditoleransi, menunjukkan relaks.
Intervensi :
a. Pertahankan tirah baring pada posisi yang nyaman; jangan menyangga lutut.
b. Kaji lokasi, berat dan tipe nyeri
c. Kaji keefektifan dan pantau terhadap efek samping anlgesik; hindari morfin
d. Berikan periode istirahat terencana.
e. Kaji dan anjurkan melakukan lathan rentang gerak aktif atau pasif setiap 4 jam.
f. Ubah posisi dengan sering dan berikan gosokan punggung dan perawatan kulit.
g. Auskultasi bising usus; perhatikan peningkatan kekauan atau nyeri; berikan enema perlahan bila dipesankan.
h. Berikan dan anjurkan tindakan alternatif penghilang nyeri.
3. Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan distensi abdomen dan atau kekakuan.
Tujuan : pola nafas menjadi efektif.
Kriteria hasil : pasien menunjukkan kemampuan melakukan latihan pernafasan, pernafasan yang dalam dan perlahan.
Intervensi :
a. Kaji status pernafasan; observasi terhadap menelan, “pernafasan cepat”
b. Tinggikan kepala tempat tidur 40-60 derajat.
c. Pantau terapi oksigen atau spirometer insentif
d. Kaji dan ajarkan pasien untuk membalik dan batuk setiap 4 jam dan napas dalam setiap jam.
e. Auskultasi dada terhadap bunyi nafas setiap 4 jam.
4. Ansietas berhubungan dengan krisis situasi dan perubahan status kesehatan.
Tujuan : ansietas teratasi
Kriteria hasil : pasien mengungkapkan pemahaman tentang penyakit saat ini dan mendemonstrasikan keterampilan kooping positif dalam menghadapi ansietas.
Intervensi :
a. Kaji perilaku koping baru dan anjurkan penggunaan ketrampilan yang berhasil pada waktu lalu.
b. Dorong dan sediakan waktu untuk mengungkapkan ansietas dan rasa takut; berikan penenangan.
c. Jelaskan prosedur dan tindakan dan beri penguatan penjelasan mengenai penyakit, tindakan dan prognosis.
d. Pertahankan lingkungan yang tenang dan tanpa stres.
e. Dorong dukungan keluarga dan orang terdekat.
DAFTAR PUSTAKA
1. Nettina, Sandra M. Pedoman Praktik Keperawatan. Alih bahasa Setiawan dkk. Ed. 1. Jakarta : EGC; 2001
2. Smeltzer Suzanne C. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth. Alih bahasa Agung Waluyo, dkk. Editor Monica Ester, dkk. Ed. 8. Jakarta : EGC; 2001.
3. Tucker, Susan Martin et al. Patient care Standards : Nursing Process, diagnosis, And Outcome. Alih bahasa Yasmin asih. Ed. 5. Jakarta : EGC; 1998
4. Price, Sylvia Anderson. Pathophysiology : Clinical Concepts Of Disease Processes. Alih Bahasa Peter Anugrah. Ed. 4. Jakarta : EGC; 1994
5. Reeves, Charlene J et al. Medical-Surgical Nursing. Alih Bahasa Joko Setyono. Ed. I. Jakarta : Salemba Medika; 2001

Sunday, 15 July 2012

SATUAN ACARA PENYULUHAN



TEMA : Personal Higiene
SASARAN                 : Ibu yang mempunyai bayi atau balita usia 0-6 tahun di  
                                     Lingkungan Batu Ringgit Utara khususnya rumahTn   
 
                                    
“R”   yang memiliki bayi.
WAKTU                      :
TEMPAT                     :
A.     TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM (TIU)
Setelah dilakukan penyuluhan mengenai personal higiene diharapkan ibu memahami mengenai personal higiene yang harus diperhatikan oleh masing-masing .
B.     TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS (TIK)
Setelah dilakukan penyuluhan selama 20 menit ibu dapat :
  1. Menjelaskan  dengan benar hal-hal yang harus diperhatikan pada kebersihan diri dari head to toe
  2. Menjelaskan  dengan benar alasan dan manfaat menjaga kebersihan diri
C.     ALOKASI WAKTU : ( 15 menit )
No
Komunikator
Komunikan
waktu

1
Pre Interaksi
Memberi salam dan memperkenalkan diri

Menjawab salam


2
Menjelaskan tujuan penyuluhan dan tema penyuluhan
Mendengarkan
5 mnt
3
Apersepsi dengan menggambarkan tingginya insidensi kutu kepala
Mendengarkan


4
Isi
Menjelaskan materi penyuluhan mengenai personal higiene; kepentingan, hal-hal yang harus diperhatikan head to toe

Mendengarkan
10 mnt
5
Memberikan kesempatan kepada komunikan untuk bertanya tentang materi yang disampaikan
Mengajukan pertanyaan

6
Penutup
Memberikan pertanyaan akhir sebagai evaluasi

Menjawab
5 mnt
7
Menyimpulkan bersama-sama hasil kegiatan penyuluhan
Mendengarkan

8
Menutup penyuluhan dan mengucapkan salam
Menjawab salam


D.    STRATEGI PENGAJARAN
Demontrasi dan Diskusi

E.     MEDIA PENGAJARAN
Leftop
F.      Evaluasi
Pertanyaan lisan tentang :
a.       kepala termasuk gigi dan mulut
  1. badan
  2. kesehatan mata
  3. alat gerak (kaki, tangan dan kuku)
1.      sebutkan tujuan dan manfaat dijaganya kebersihan diri
2.      apakah ibu bersedia melakukan apa yang sudah dijelaskan dalam memenuhi kebutuhan kebersihan dirinya













                                   



LAMPIRAN MATERI PENYULUHAN

Personal Higiene
*      KEBERSIHAN MULUT DAN GIGI DIJAGA DENGAN :
1.      Untuk yang masih mempunyai gigi :
Menyikat gigi secara teratur sekurang-kurangnya dua kali dalam sehari, pagi hari dan malam sebelum tidur, termasuk bagian gusi dan lidah.
Bila ada gigi berlubang, sebaiknya segera ke Puskesmas. Bila tetap ada endapan warna kuning sampai cokelat, kirim ke Puskesmas/dokter gigi.
2.      Bagi yang menggunakan gigi palsu :
Gigi dibersihkan dengan sikat gigi perlahan-lahan di bawah air yang mengalir. Bila perlu dapat digunakan pasta gigi.
Pada waktu tidur, gigi tiruan/palsu tidak dipakai dan direndam dalam air bersih.
3.      Bagi mereka yang tidak mempunyai gigi sama sekali :
Setiap habis makan juga harus menyikat bagian gusi dan lidah untuk membersihkan sisa makanan yang melekat.
*      KEBERSIHAN KEPALA, RAMBUT DAN KUKU :
1.      Cuci rambut secara teratur paling sedikit dua kali seminggu untuk menghilangkan debu dan kotoran yang melekat di rambut dan kulit kepala.
2.      Potong kuku secra teratur.
*      KEBERSIHAN TEMPAT TIDUR :
  1. Tempat tidur harus selalu dibersihkan. Kasur yang cekung ditengah hendaknya dibalik setiap kali bila tempat tidur dibersihkan. Juga kasur harus dijemur ditengah terik matahari.
*      KEBERSIHAN KULIT (MANDI) :
Usaha untuk membersihkan kulit dapat dengan cara mandi setiap hari secara teratur, paling sedikit dua kali sehari. Pada saat mandi lansia sebaiknya mempergunakan air hangat untuk merangsang peredaran darah dan mencegah kedinginan, menggunakan
*      KEBERSIHAN MATA :
Elastisitas lensa mata pada lanjut usia berkurang. Akibatnya, tulisan yang kecil menjadi kabur pada jarak normal, tapi jadi terang bila jarak didekatkan.
Gejala yang tak normal antara lain :
·        Penglihatan menjadi ganda
·        Bintik hitam atau ada daerah yang gelap
·        Sakit pada mata
·        Terlihat ada warna atau terang di sekitar ujung-ujung objek
·        Mata yang kemerahan
·        Tiba-tiba kehilangan kemampuan melihat dengan jelas
Bila ada gejala-gejala ini, harus segera mengkonsultasikan diri ke dokter. Setiap dua tahun mata harus dikontrol, bila tidak ada kelainan.
Tidak usah menunggu sampai dua tahun bila ada kelainan-kelainan seperti :
·        Kesulitan membaca
·        Memasukkan benang ke lubang jarum
·        Kesulitan membaca nomor bus dan lain-lain
Sabun yang halus dan jangan terlampau sering karena dapat mempengaruhi keadaan kulit yang sudah kering dan keriput.
Manfaat mandi adalah menghilangkan bau, menghilangkan kotoran, merangsang peredaran darah, memberikan kesegaran pada tubuh.

 
TOP